Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian memanas seiring meningkatnya potensi konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat. Teheran dilaporkan mulai bersiap menghadapi kemungkinan invasi darat dari Barat, di tengah sinyal eskalasi militer yang terus meningkat.

Melansir dari Tasnim News melalui laporan yang dikutip pada Jumat, 27 Maret 2026, Iran mengklaim telah memobilisasi lebih dari satu juta tentara dan pejuang. Langkah ini disebut sebagai respons atas ancaman invasi darat yang terus digaungkan Washington.

Sumber yang mengetahui perkembangan tersebut menyebutkan bahwa lonjakan partisipasi publik terjadi secara signifikan, dengan lebih dari satu juta warga menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam pertempuran. Bahkan, gelombang pemuda dilaporkan berbondong-bondong mendaftar untuk bergabung dengan Garda Revolusi Iran dalam beberapa hari terakhir.

Komandan Pasukan Darat Iran, Ali Jahanshahi, menegaskan kesiapan negaranya menghadapi berbagai kemungkinan. Dalam pernyataannya yang dikutip dari ISNA, ia memperingatkan bahwa perang darat justru akan menjadi bumerang bagi pihak musuh.
“Perang darat akan lebih berbahaya dan merugikan bagi musuh. Semua pergerakan musuh di perbatasan dipantau, dan kami siap menghadapi skenario apa pun,” tegasnya.

Situasi ini dipicu oleh sikap Presiden AS, Donald Trump, yang terus menekan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Washington bahkan disebut mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran serta melancarkan operasi darat jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Di sisi lain, melansir Reuters pada Sabtu, 28 Maret 2026, Pentagon dilaporkan tengah menyiapkan rencana operasi darat selama beberapa pekan di Iran. Rencana tersebut mencakup kemungkinan pengerahan pasukan operasi khusus hingga infanteri konvensional, meski belum dipastikan apakah akan mendapat persetujuan langsung dari Trump.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa Amerika Serikat telah mengirimkan Marinir ke kawasan Timur Tengah, serta merencanakan pengerahan ribuan pasukan tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS. Langkah ini memperkuat indikasi bahwa konflik berpotensi meningkat ke tahap yang lebih serius.

Sementara itu, Iran menolak klaim adanya negosiasi dengan AS dan menuding Washington hanya berupaya mengulur waktu sambil mempersiapkan serangan lanjutan. Di tengah situasi tersebut, keberadaan sekitar 50.000 personel militer AS di kawasan turut mempertegas eskalasi yang sedang berlangsung.

Dengan kedua pihak sama-sama meningkatkan kesiapan militer, potensi konflik darat kini menjadi ancaman nyata. Situasi di kawasan pun dinilai sangat dinamis dan berisiko berkembang menjadi konflik berskala lebih luas dalam waktu dekat. (kin)